Melihat tradisi corat-coret yang biasa dilakukan oleh para siswa untuk merayakan kelulusan sebenarnya membuat saya bertanya-tanya. Kenapa ya kelulusan harus identik dengan corat-coret ? Padahal kan banyak “pelampiasan” lain yang lebih baik. “Sebagai kenang-kenangan, biar bisa selalu diinget”, begitu jawaban yang biasanya kita temui. Tapi saya ragu apa benar baju itu akan selalu disimpan, paling-paling tidak sampai setahun baju itu akan dibuang atau mungkin dibuat kain lap.
Yah, sebenarnya boleh-boleh saja sih meluapkan kegembiraan tapi lihat situasi dan kondisi donk. Masih banyak kan teman-teman kita yang kesusahan, dan apa salahnya sih kita sumbangkan baju itu untuk mereka. Pasti mereka akan senang sekali, bahkan mungkin rasa senang mereka melebihi rasa senang siswa yang lulus.
Dan kalau kalian sempat melihat berita kemarin, ternyata para siswa tidak hanya merayakannya dengan corat-coret tapi dengan cara yang lebih “unik”, yaitu Tawuran. Gila ga sih ?! Tidak hanya itu, mereka juga merayakannya dengan membuat macet jalan raya dengan pawai yang sama sekali ga’ guna. Hhhh…belum cukup dengan itu semua, bahkan ada beberapa siswa pria yang berusaha melakukan pelecehan seksual kepada siswa wanitanya. Mereka memanfaatkan keramaian saat lulus untuk berbuat hal-hal yang tak senonoh terhadap teman-teman mereka sendiri.
Jujur, saya marah sekali ketika mendengar berita itu. Apa memang sudah sedemikian parahnya ya moral pemuda bangsa ini ? Rasanya saya sudah muak mendengar berita-berita jelek yang disebabkan oleh generasi muda kita.
Sempat terlintas dalam pikiran saya sebuah gagasan gila, yaitu satu-satunya cara yang cepat dan ampuh untuk memperbaiki bangsa ini adalah dengan “membunuh” seluruh generasi yang sekarang ada di Indonesia sehingga bisa digantikan dengan yang lebih baik (hehe.. benar-benar gila ya). Yah, semoga saja moral bangsa ini bisa segera membaik atau kita terpaksa melaksanakan gagasan gila saya tadi.


Newer Comments