Archive for the 'Teknologi Informasi' Category

ID Chip + GPS

Pernah ga kebayang kalau suatu hari nanti di masing-masing tubuh kita akan ditanam chip kecil yang tujuannya sebagai identitas diri. Kemarin waktu nonton salah satu acara di Metro TV ternyata hal itu bukan lagi hanya sebuah wacana tapi benar-benar akan diwujudkan di beberapa tahun mendatang.

Katanya sih dulunya chip tersebut hanya dipasang untuk para penjahat saja supaya kalau kabur bisa cepat ditangkap lagi. Tapi ada gagasan yang berkembang kenapa tidak sekalian saja seluruh umat manusia di bumi dipasangi chip tersebut. Tujuannya tidak hanya sebagai identitas tapi bisa juga berguna untuk tujuan medis, seperti deteksi kondisi jantung, syaraf, dsb. Bahkan rencananya chip tsb akan dilengkapi dengan GPS (Global Positioning System) supaya posisi setiap manusia di bumi ini bisa dilacak. (Jadi ingat sama tokoh Prof. Xavier di film X-Men yang bisa melacak posisi semua mutan :D ).

Wah, kalau chip tsb benar-benar diwujudkan, bisa-bisa setiap gerak-gerik kita bisa dilacak nih. Tapi saya setuju sekali sih sama ide chip ini karena para siswa yang sering bolos jadi bakal gampang ketahuan sama ortu mereka (wak..wak..wak..) :p.

Ajax ?!

Pengen sharing sedikit nih tentang Ajax (Asynchronous Javascript and XML) soalnya kebetulan sekarang lagi mendalami web programming. Jadi Ajax itu sebenarnya bukan teknologi baru tapi merupakan gabungan dari Javascript dan XML. Tentunya sudah tau donk Javascript itu “makhluk” apaan (btw, bahasa ini pernah sangat aku remehkan lho dulunya). Bwt yang belum tau, Javascript itu ialah bahasa pemrograman yg client-side. Jadi bahasa ini dieksekusi di browser si user, bukan di webserver.

Kalo XML apaan tuh ? Nah, XML ini sebenarnya transformasi dari HTML. Nih aku kasih contoh salah satu script sederhana XML :
<books>
<book>
<title> Belajar XML yuk..!! </title>
<author> RadiX </author>
</book>
</books>

Koq kelihatannya simpel ya. Ya memang justru itulah kekuatan dari XML. Karena kesederhanaannya, bahasa ini diprediksi akan menjadi format standar dalam pengiriman data di masa depan. Uniknya lagi, kita bisa menentukan sendiri tag-tag yg kita inginkan, pokoknya bebas deh mau dikasih nama apa aja (asyik g..?!).

Nah, sebelum membahas tentang Ajax, saya pengen nanya dulu nih. Pernah g sih kita merasa bahwa ketika ingin pindah dari satu halaman ke halaman yg lain (dalam satu situs tentunya), sebenarnya yg berubah kan cuma content-nya. Sedangkan header, navigation bar, iklan2 (kalau ada), dsb tidak mengalami perubahan yg berarti. Jadi sebenarnya boros bgt donk, browser kita cape2 request ke webserver hanya untuk sedikit perubahan. Dan yg lebih menyebalkannya lagi, kita hrs menunggu waktu loading yg cukup lama.

Nah, di sinilah Ajax hadir sebagai solusi dari persoalan tersebut. Dengan Ajax, browser tidak perlu sampai terang-terangan request ke webserver hanya untuk perubahan yg sedikit tersebut. Caranya gimana ? Sok saya jelasin bwt yg udah g sabar.

Jadi gini, kuncinya ada di object XMLHttpRequest yg dimiliki oleh Javascript. Dengan object ini, Javascript bisa secara diam-diam atau istilah kerennya secara background akan me-request ke webserver untuk halaman tertentu yg berubah. Tentunya tanpa sepengetahuan si user. Jadi g ada lagi yg namanya “loading”.

Nah, si webserver akan memenuhi request dari Javascript dalam bentuk format XML. Kemudian si Javascript ini (masih secara diam2) akan menerima kiriman dari webserver dalam format XML tadi yang selanjutnya akan di-display ke user. Gimana, masih bingung?

Kalo masih bingung, aku kasih contoh yg sederhana deh, misalkan Form. Biasanya dalam sebuah form yg harus diisi oleh user kan banyak validasinya, ya yg ga boleh kosonglah, atau format emailnya harus benerlah, dsb. Kalau tanpa Ajax, gimana coba validasinya ? Ada 2 cara, yaitu :
1. Dengan pure Javascript, jadi sebelum dikirim ke webserver divalidasi dulu tuh form.
2. Dengan server-side programming language (contohnya PHP). Jadi validasinya dilakukan oleh server.

Untuk cara 1, sebenarnya kurang efektif karena biasanya kita harus mengisi dulu semua form kemudian baru meng-klik tombol “Submit” untuk mengecek isi form tsb. Dan untuk cara ke-2 lebih ga efektif lagi, soalnya jika ada satu saja yg salah, maka user hrs mengisi form itu dari awal karena isi form yg sebelumnya diisi oleh user hilang semua.

Nah, dengan Ajax, kita bisa menghemat waktu dan lebih memudahkan user dalam mengisi form. Kenapa ? Karena ketika user salah mengisi form, seketika itu juga langsung muncul pesan kesalahan. Gimana, lebih enak kan ?

Sebenarnya implementasi Ajax g hanya sebatas form saja. Bisa juga untuk data grid pada tabel, RSS, aplikasi chatting, dsb. Bahkan sekarang Yahoo dan Google pun sudah mengimplementasikan Ajax dalam situs mereka. Ini salah satu contohnya :

Google Suggest
Google Maps

Mungkin segitu aja pembahasan dari saya. Moga aja bisa memberikan gambaran umum bwt kalian tentang apa sih Ajax itu sebenarnya. Kalo tertarik dan ingin belajar lebih lanjut tentang Ajax, sok klik aja link di bawah ini :

http://www.w3schools.com/ajax/

:D

Tentang IGOS

tuxdrinkxp.jpg

Mengapa ya pemerintah kita setengah-setengah dalam mendukung program Indonesia Goes Open Source (IGOS). Padahal kan kalau program ini berhasil terlaksana di Indonesia, kita akan terbebas dari masalah yang menyangkut HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual). Ironisnya, pemerintah malah menandatangani kontrak dengan Microsoft mengenai lisensi pemakaian software-nya. Dan yang lebih parahnya lagi, pemerintah melakukan hal tersebut secara diam-diam.

Bagaimana Indonesia mau maju kalau para pemimpin kita terus bersikap apatis terhadap perubahan. Mereka juga seakan tidak percaya dengan kemampuan anak bangsa dalam hal teknologi informasi. Padahal anak muda kita tidak kalah hebatnya dengan bangsa lain.

Lihat saja di Jepang, ada salah satu pemuda kita (saya lupa namanya) yg berhasil membuat sebuah situs pertemanan seperti Friendster yg merupakan situs terpopuler di Jepang saat ini. Kurang hebat apalagi coba.

Kalau saja pemerintah mau mendukung sepenuhnya program IGOS, niscaya setidaknya salah satu masalah bangsa kita sedikit demi sedikit akan terselesaikan. Mulai dari masalah bajak-membajak, lisensi ilegal, dsb. Dan juga uang yg kita gunakan untuk membayar lisensi Microsoft (yg tentu saja bukan jumlah yang sedikit) dapat kita gunakan untuk keperluan lain yg lebih membutuhkan, seperti sektor pendidikan, ekonomi, dan lainnya.

A Power Named C++

Berhubung sekarang lagi mendalami C++, saya mau bagi-bagi sedikit nih tentang kehebatan bahasa yang katanya merupakan bahasa pemrograman tersusah di dunia (katanya lho..). C++ adalah pengembangan dari bahasa C, sering disebut dengan C with Classes, kenapa? Karena C++ telah memakai konsep pemrograman berorientasi objek (OOP).

Apa sih OOP itu? Nah, jadi gini. OOP adalah sebuah konsep pemrograman di mana sang programmer bekerja dengan objek-objek yang dibuatnya melalui sebuah “Class”. Berbeda dengan konsep prosedural yang dianut oleh bahasa Pascal dan C yang sangat-sangat tergantung oleh programmer (Programmer is The King). Selain itu, konsep prosedural sangat sistematis dan step-by-step sehingga tidak mungkin ada kasus kejutan di luar perkiraan si programmer.

Berbeda dengan prosedural, OOP membuat seorang programmer tidak lagi menjadi penguasa. Objek-objek yang dihasilkannya melalui “Class” mempunyai karakteristik dan kelakuan sendiri yang tidak bisa diprediksi oleh programmer pada saat meng-coding. Jadi di sini programmer harus memperkirakan berbagai kemungkinan situasi yang akan muncul pada objek-objek yang telah dibuatnya, seperti tabrakan antara 2 buah objek, penggabungan, dsb.

Selain itu, ada kata kunci yang sangat terkenal dalam C++, yaitu Pointer. Sepertinya kalau seorang programmer (tidak hanya programmer C++) tidak mengenal kata sakti ini, rasanya statusnya perlu dicabut deh. Soalnya pointer merupakan kunci dari C++. Jika kita bisa menguasai dan mengendalikan pointer (wuih..), bahasa OOP lain seperti Java bisa lewat deh. Bahkan katanya perusahaan-perusahaan IT di luar negeri itu lebih memandang programmer C++ daripada programmer Java. Makanya untuk para programmer Java, Anda jangan bangga dulu kalau belum pernah bersentuhan dengan makhluk bernama C++. :D

Pengalaman Pertama Memakai Linux

09.jpg

Saya mo cerita dikit nih tentang pengalaman saya memakai Linux yg mungkin pernah dialami oleh semua orang yg pertama kali nyoba pake Linux. Yg pertama saya lakukan tentu saja membeli CD Linux-nya (he..he..), tapi bukan bajakan lho karena g ada yg namanya Linux bajakan, ada juga Windows bajakan (mungkin ini yg pertama kali membuat saya tertarik dengan Linux).

Saya masih ingat distro Linux yg pertama kali saya beli adalah Mandriva 10.1 soalnya saya denger nih distro sangat2 user-friendly, bahkan ada yg bilang mirip2 sama Windows. Nah berhubung saya masih newbie, maka saya beli ntu distro.Kemudian sampe di kost-an, saya coba nginstall nih Windows yg sebelumnya tentu saja saya set di komputer saya untuk booting dari CD-ROM. Lalu masuklah ke tampilan instalasi yg menurut saya sangat2 indah dg logo pinguin yg lucu. Langkah demi langkah lancar dari menu pemilihan bahasa, agreement (license apa gitu, pokoknya agree2 aja deh :p). Dan terus next..next.. Tiba-tiba sampailah pada tahap yg kata orang-orang tahap paling kritis dalam menginstall Linux, yaitu (eng..ing..eng..). Ya Anda benar, tahap partisi harddisk. Berhubung pada waktu itu saya kurang ngerti dg istilah2 seperti swap, mount, dsb yg tidak pernah saya temukan di Windows, maka dg feeling dan intuisi yg rada sok tahu, saya pilihlah salah satu pilihan di situ (saya lupa waktu itu milih apa).

Then, ketika itu mulailah proses instalasi. Kebetulan CD-nya waktu itu ada 3 buah, jadi ketika si installernya minta CD yg ke-2, maka saya penuhilah permintaannya. Saya tongkrongin trus tuh depan monitor ngeliatin progress bar-nya yg lamaa.. bgt majunya. Tiba2 muncul pesan : “bla..bla..bla.. not found”. Kaya’nya sih ada package yg g bisa di-install so saya “yes” aja trus. Dan Anda bisa menebak apa yg terjadi selanjutnya ?? Banyak bgt pesan yg sama muncul sesudahnya. (Oh my God.., inilah resiko beli CD di pinggir2 jalan). Akhirnya dg perasaan yg rada kesel saya “yes” aja terus.

Kemudian si installer minta CD ke-3, ok saya kasih. Pas udah masuk, pesan apa coba yg muncul : Please Insert The 3rd CD. Dalam hati saya teriak, “Woi bodoh bgt sih lw, ntu dah gw kasih masih aj minta”. Akhirnya dengan perasaan yg tambah kesal (arghh..) saya batalkan proses instalasi secara keseluruhan. Pas dicek di Windows, ternyata CD yg ke-3 ntu isinya sama dg CD yg ke-2. Akhirnya saya tukarlah CD yg ke-3 ke abang2 penjualnya (Sumpah, saya g akan beli CD di tempat itu lagi).

Ok, kemudian saya coba install lagi dari awal. Bla..bla..bla..(ceritanya sama kaya’ paragraf di atas). Bedanya sekarang perasaannya rada dag-dig-dug (tau kenapa, blum makan kali). Akhirnya selesai-lah proses instalasi (g tau bener ato g). Kemudian saya reboot tuh kompie. Sewaktu ada pilihan mo pake OS yg mana, ternyata g ada pilihan Windows XP (wakss..). Waktu itu yg ada cuma pilihan Linux dan Linuxsafe. Ya udah lah, kemudian saya pilih “Linux”, tau apa yg terjadi selanjutnya?? Bukannya masuk ke Linux malah muncul pesan error apa gitu, trus nge-hang. Kemudian saya reboot kompie-nya dan ternyata yg muncul bukan kaya’ yg pertama tapi stuck pas di tempilan deteksi hardware serta muncul angka 9 banyak bgt.

Oh no..!! (dag-dig-dug nya makin kenceng euy). Saya reboot trus tuh kompie sampe puluhan kali (ah.. cape deh). Akhirnya saya menyerah, berhubung g ada bendera putih jadinya saya pergi tidur aja deh (jaka sembung makan cendol, g nyambung dodol :p). Setelah saya bawa ke tukang service, ternyata kesalahan saya pas di partisi harddisk, system-nya si Linux ternyata ketimpa sama system-nya Windows jadinya ya gitu deh…

Semenjak kejadian itu, saya selalu nginstall Linux di virtual PC, bukan langsung nginstall di harddisknya. Soalnya biar aman euy dan juga biar bisa nginstall banyak OS tanpa takut ketimpa antara satu OS dengan lainnya.


Calendar

November 2009
M T W T F S S
« Jun    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Earn Money from Blogging

Blog Advertising - Advertise on blogs with SponsoredReviews.com

My Twitter

Archives

Lucky People

  • 6,510 hits

Flickr Photos

PPPA: Professional Puppy Photographers of America.

dance like noone's watching

Untitled

More Photos